Generasi Muda Belajar Arkeologi Langsung di Situs Purba Bumiayu

banner 120x600

 

 

MataviralNews. Web.Id/-Jakarta, 10 Mei 2026 — Empat pelajar dari sistem pendidikan hybrid dan homeschooling mengikuti studi lapangan di Situs Purbakala Bumiayu, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah, pada 3–6 Mei 2026. Kegiatan bertajuk “Petualangan Mengungkap Sejarah di Bumiayu” ini memperkenalkan dunia arkeologi, arkeometri, dan pelestarian budaya secara langsung kepada generasi muda.

Peserta terdiri dari Shanetrygve Adriel Kastanya (Shane), Grimonia Tarari Zaneta Kamila (Tara), Quinxia Evangeline Yaotama (Quinx) dari Alta Global School, serta Nathan Dipa Dewangga (Dipa) dari Strive Online Homeschooling.

Kegiatan dimulai dari Kawasan Stasiun Lapangan (KSL) BRIN dan Museum Purbakala Bumiayu. Para peserta melakukan observasi museum, wawancara dengan pengelola, hingga mengikuti ekskavasi bersama peneliti dan mahasiswa arkeologi.

“Museum ini bukan sekadar tempat penyimpanan fosil, tetapi simbol kepedulian masyarakat terhadap sejarah daerahnya,” ujar Dipa.

Di lapangan, peserta belajar mengenai survei arkeologi, dokumentasi temuan, penggunaan drone, identifikasi fosil, hingga penelitian arkeometri. Mereka juga berdialog langsung dengan sejumlah peneliti BRIN dan praktisi geoarkeologi.

“Bumiayu berpotensi menghadirkan temuan yang dapat memperbarui penelitian sebelumnya tentang manusia purba di Pulau Jawa,” ujar Fakhri, peneliti arkeologi prasejarah BRIN.

Selain penelitian ilmiah, peserta mengunjungi Candi Poh dan kawasan “laut purba” Bumiayu untuk mempelajari sejarah lisan, tradisi budaya, dan upaya pelestarian situs oleh masyarakat lokal.

“Masyarakat memandang kawasan situs sebagai bagian penting dari sejarah, budaya, sekaligus ruang ekologis yang harus dijaga,” tutur Tara.

Selama kegiatan, para peserta juga menyusun dokumentasi visual dan narasi populer berbasis metode visual storytelling untuk memperkenalkan sejarah kepada generasi muda melalui media digital.

“Hasil observasi dan dokumentasi ini akan dikembangkan menjadi esai ilmiah, buku perjalanan, dan cerita rakyat berbasis riset lapangan,” jelas Shane.

Para peneliti menilai keterlibatan pelajar dalam kegiatan seperti ini penting untuk membangun regenerasi peneliti sekaligus memperluas literasi sejarah dan budaya Indonesia.

“Pendidikan bermakna tidak selalu lahir dari ruang kelas, tetapi juga dari pengalaman langsung di lapangan,” pungkas Bonifasius Bayu Brathara, pendamping lapangan kegiatan tersebut.

Iis

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *