Mataviral. Web. Id-Hasil Hutan Ikutan yang Terlupakan Padahal Prospek Pasarnya Sangat Menjanjikan
BANDUNG, 20 Juli 2026 — Di tengah gencarnya upaya pelestarian hutan dan pemanfaatan hasil hutan bukan kayu, satu hal yang justru semakin jarang ditemui: generasi muda yang menguasai teknik pembuatan arang kayu secara tepat. Fenomena ini dirasakan di seluruh wilayah Jawa Barat, terutama di kawasan hutan dan daerah pegunungan seperti Subang, Sumedang, dan Bandung.
Keterampilan ini perlahan terancam punah dalam kurun waktu sepuluh tahun terakhir. Sebagian besar pengrajin yang masih bertahan sudah berusia lanjut, namun belum banyak penerus dari kalangan muda yang mau melestarikan keahlian ini. Padahal, bahan baku yang dibutuhkan sebenarnya sangat melimpah dan sebagian besar masih dianggap limbah — kayu mati berdiri, cabang hasil pemangkasan, sisa penebangan, hingga ranting pohon — semuanya bisa diolah menjadi barang bernilai tinggi dengan tungku sederhana.
Pembuatan arang kayu yang berkualitas bukan sekadar membakar kayu. Kayu harus dikeringkan terlebih dahulu hingga kadar airnya rendah, lalu dibakar di dalam tungku dengan aliran udara yang diatur ketat agar pembakaran berjalan lambat namun sempurna tanpa membuat kayu habis menjadi abu. Pada waktu yang tepat, tungku ditutup rapat sehingga proses karbonisasi berjalan sempurna, lalu didinginkan secara bertahap sebelum dikeluarkan. Hasilnya adalah arang dengan kadar karbon tinggi, bersih, tahan lama, dan berasap sedikit.
Banyak yang beranggapan arang kayu sudah tidak relevan di era gas dan listrik. Kenyataannya justru sebaliknya — permintaan terus meningkat dari berbagai sektor. Dunia kuliner dan UMKM makanan masih membutuhkannya setiap hari karena menghasilkan rasa dan aroma yang tidak tergantikan. Industri membutuhkannya sebagai bahan baku arang aktif, penyaring air dan udara, serta campuran pupuk. Bahkan pasar luar negeri di Asia Timur, Eropa, hingga Amerika terus mengimpor arang kayu Indonesia karena kualitasnya yang diakui dunia. Selain itu, pengolahan kayu mati menjadi arang juga membantu pengelolaan limbah hutan sekaligus mengurangi risiko kebakaran, dan arang halus yang dicampur tanah terbukti memperbaiki kesuburan serta menahan air di lahan pertanian.
Pasar arang kayu tidak hanya masih ada — pasarnya justru semakin spesifik dan bernilai tinggi. Yang berkurang bukan pembelinya, melainkan orang yang menguasai teknik pembuatannya dengan benar. Belum ada data pasti jumlah pengrajin muda yang tersisa, namun di lapangan kondisinya sangat nyata: semakin jarang wajah-wajah muda di tungku pembakaran arang.
💡 Informasi Tambahan:
Bagi generasi muda atau masyarakat yang berminat mempelajari teknik pembuatan arang kayu yang benar dan berkualitas, dapat menerima bimbingan serta konsultasi berdasarkan pengalaman lapangan. Tujuannya semata-mata agar keterampilan ini tidak punah dan bisa diwariskan kepada generasi penerus.
silahkan menghubungi kami KKJN DPD JABAR. 082110986027/08211406470
“Kita tidak sedang berbicara tentang kayu yang dibakar. Kita berbicara tentang keterampilan yang mengubah apa yang dianggap sampah menjadi sumber kehidupan. Bahan bakunya melimpah, pasarnya menanti — yang dibutuhkan hanyalah tangan yang mau belajar.”
Arang kayu bukan masa lalu. Di masa depan, ketika dunia semakin menghargai produk alami dan ekonomi sirkular, keterampilan ini akan semakin dicari dan dihargai tinggi.
Redaksi : agus yani




