Menggali Filosofi, Sejarah, dan Relevansi Budaya Sunda di Era Modern

banner 120x600

Bandung, 30 Mei 2026MataViralNews.web.id – Di tengah derasnya arus globalisasi dan perkembangan teknologi yang semakin pesat, pelestarian budaya daerah menjadi salah satu upaya penting dalam menjaga jati diri bangsa. Hal tersebut disampaikan oleh Asep Ridwan H. Wiranata, Ketua Yayasan Sentral Kebudayaan Daerah (SABDA), ( pancen saka Sunda ) dalam wawancara mengenai filosofi, sejarah, dan relevansi budaya Sunda dalam kehidupan masyarakat masa kini.

Menurut Asep Ridwan, budaya Sunda bukan hanya sebatas kesenian, bahasa, atau tradisi yang diwariskan turun-temurun, melainkan sebuah sistem nilai yang mengajarkan keseimbangan hidup, penghormatan terhadap sesama manusia, alam, dan Sang Pencipta.

“Budaya Sunda memiliki filosofi yang sangat mendalam. Leluhur Sunda mengajarkan kehidupan yang harmonis melalui prinsip silih asih, silih asah, silih asuh, yaitu saling mengasihi, saling memberikan ilmu, dan saling membimbing dalam kehidupan bermasyarakat,” ujarnya.

Dalam kesempatan tersebut, Asep juga menyoroti pentingnya pemahaman terhadap konsep Pancen Saka Sunda, yang menurutnya merupakan bagian dari jati diri dan kesadaran hidup masyarakat Sunda.

“Pancen Saka Sunda bukan sekadar identitas kesukuan, melainkan kesadaran akan asal-usul, jati diri, tugas, dan tanggung jawab manusia sebagai bagian dari alam semesta dan pewaris peradaban Sunda. Di dalamnya terkandung ajaran untuk hidup harmonis dengan sesama manusia, alam, dan Sang Pencipta,” jelasnya.

Ia menegaskan bahwa nilai-nilai Pancen Saka Sunda mengajarkan manusia untuk mengenali dirinya, menjaga etika, menghormati leluhur, melestarikan lingkungan, serta menjalani kehidupan berdasarkan keseimbangan dan kesadaran.

“Jangan hanya bangga mengaku urang Sunda. Yang lebih penting adalah menjalankan nilai-nilai Sunda dalam kehidupan sehari-hari. Budaya bukan untuk dihafal, tetapi untuk diamalkan. Di situlah makna Pancen Saka Sunda yang sesungguhnya,” tegasnya.

Asep menjelaskan bahwa sejarah peradaban Sunda telah melahirkan berbagai bentuk kearifan lokal yang hingga kini masih relevan untuk dijadikan pedoman menghadapi berbagai tantangan zaman. Salah satunya adalah cara masyarakat Sunda dalam memahami waktu melalui kalender dan sistem penanggalan tradisional yang tidak hanya berfungsi sebagai penanda hari, tetapi juga sebagai sarana membaca keteraturan alam dan kehidupan.

Menurutnya, pemahaman terhadap waktu dalam budaya Sunda bukan sekadar hitungan hari, bulan, dan tahun, melainkan bagian dari upaya manusia untuk memahami posisi dirinya dalam tatanan kehidupan yang lebih luas.

“Ketika leluhur Sunda membaca waktu, sesungguhnya mereka sedang membaca kehidupan. Waktu menjadi pengingat bahwa manusia harus hidup selaras dengan alam, menjaga keseimbangan, dan memiliki kesadaran terhadap setiap tindakan yang dilakukan,” jelasnya.

Asep Ridwan menilai bahwa nilai-nilai budaya Sunda justru semakin penting di era modern. Di tengah perubahan sosial yang cepat, masyarakat memerlukan fondasi moral, sosial, dan spiritual yang kuat agar tidak kehilangan arah dalam kehidupan.

Ia juga menegaskan bahwa pelestarian budaya tidak berarti menolak kemajuan zaman. Sebaliknya, budaya harus mampu beradaptasi, berkembang, dan menjadi sumber inspirasi dalam membangun masyarakat yang berkarakter.

“Budaya Sunda bukan untuk disimpan di masa lalu, tetapi untuk dihidupkan dalam kehidupan hari ini. Generasi muda perlu memahami akar budayanya agar mampu menghadapi masa depan tanpa kehilangan identitas,” katanya.

Melalui berbagai kegiatan kebudayaan, termasuk Ritual Pengetahuan Cerdas Berbudaya yang mengangkat tema “Membaca Waktu Menjaga Harmoni Kehidupan dengan Kesadaran”, Yayasan SABDA berupaya mengajak masyarakat untuk kembali mengenal warisan pengetahuan leluhur sebagai sumber pembelajaran, refleksi, dan pedoman kehidupan.

Pesan untuk Pemerintah dan Masyarakat

Dalam kesempatan tersebut, Asep Ridwan juga menyampaikan pesan khusus kepada Pemerintah Provinsi Jawa Barat, pemerintah kabupaten/kota, para pemangku kebijakan, serta seluruh masyarakat Indonesia, khususnya warga Bandung dan Jawa Barat.

Menurutnya, pelestarian budaya tidak boleh berhenti pada tataran seremonial, slogan, atau sekadar pengetahuan semata. Nilai-nilai budaya harus diwujudkan dalam tindakan nyata dan menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.

“Saya mengajak Pemerintah Daerah Jawa Barat untuk memberikan perhatian yang lebih besar terhadap pelestarian budaya berbasis nilai dan kearifan lokal. Budaya jangan hanya ditampilkan dalam acara-acara tertentu, tetapi harus menjadi bagian dari kebijakan pembangunan, pendidikan, lingkungan hidup, hingga pembentukan karakter generasi muda,” tegasnya.

Ia menilai bahwa berbagai ajaran luhur Sunda seperti silih asih, silih asah, silih asuh, tata krama, gotong royong, penghormatan terhadap alam, serta kesadaran hidup harmonis perlu diterapkan secara nyata dalam kehidupan bermasyarakat maupun pemerintahan.

“Saya mengajak seluruh masyarakat Bandung, Jawa Barat, dan Indonesia untuk tidak hanya mengetahui budaya Sunda, tetapi juga melaksanakan nilai-nilainya dalam kehidupan sehari-hari. Budaya akan tetap hidup apabila dipraktikkan. Jika hanya diketahui tanpa dijalankan, maka budaya akan kehilangan maknanya,” ujarnya.

Asep juga mengingatkan bahwa berbagai persoalan sosial yang terjadi saat ini, mulai dari lunturnya etika, konflik sosial, hingga kerusakan lingkungan, dapat diminimalkan apabila masyarakat kembali menghidupkan nilai-nilai budaya yang diwariskan para karuhun.

“Budaya adalah pedoman hidup. Ketika nilai-nilai budaya dijalankan, maka akan lahir masyarakat yang berkarakter, beradab, dan memiliki kepedulian terhadap sesama maupun lingkungan. Inilah yang perlu kita bangun bersama untuk masa depan Jawa Barat dan Indonesia,” tambahnya.

Di akhir wawancara, Asep Ridwan berharap budaya Sunda dapat terus menjadi sumber nilai, pengetahuan, dan inspirasi bagi masyarakat Indonesia dalam membangun kehidupan yang harmonis, beradab, dan berkelanjutan.

“Budaya adalah warisan yang hidup. Selama masih dipahami, dipraktikkan, dan diwariskan kepada generasi berikutnya, budaya akan tetap menjadi cahaya yang menerangi perjalanan masyarakat menuju masa depan. Mari kita jaga, lestarikan, dan laksanakan nilai-nilai budaya dalam kehidupan nyata demi Jawa Barat yang berkarakter dan Indonesia yang berbudaya,” pungkasnya.

Reporter: Heri Krisd

MataViralNews.web.id

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *